Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

JAKARTA KEBANJIRAN : Banjir Jakarta bukan karena hujan deras

TEMPO.CO, Jakarta - Curah hujan yang turun sepanjang dua hari terakhir ternyata lebih kecil jika dibandingkan dengan data curah hujan harian saat terjadi banjir besar pada 2007. Namun dampaknya hampir setara. Luapan Sungai Ciliwung merendam kawasan di Jatinegara dan daerah lain yang dilintasinya. Ini persis sama seperti ketika banjir besar melanda Jakarta lima tahun lalu.  
Secara keseluruhan, banjir merendam hingga 50 kelurahan di Ibu Kota, Selasa lalu. Sampai Rabu 16 Januari 2013, banjir masih bertahan di sejumlah tempat dan memutus ruas jalan, seperti jalan Tangerang-Jakarta di kawasan Ciledug. Total, hampir 10 ribu orang mengungsi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan curah hujan harian tertinggi di Jakarta pada Selasa dan Rabu pagi hanya sekitar 100 milimeter. Angka itu jauh lebih rendah dibanding rekor curah hujan tertinggi dalam satu hari yang terjadi pada Januari 2007 yang mencapai 340 milimeter. Curah hujan sepanjang Januari ini yang diprediksi 300-400 mm juga dianggap masih normal. JAKARTA, 17/1 - BUNDERAN HI TERENDAM BANJIR. Suasana kawasan Bunderan Air Mancur Tugu Selamat Datang yang terendam banjir di Jakarta Pusat, Kamis (17/1). Sejumlah jalan protokol dan arteri di Jakarta
Curah hujan di kawasan Puncak juga lebih rendah dibandingkan lima tahun lalu. Pada 2007 lalu, curah hujan selama sebulan di kawasan Puncak bahkan bisa mencapai 640 mm, dengan curah hujan maksimum harian adalah 136 mm.
Sementara sekarang, hujan sepanjang tiga hari lalu jauh lebih sedikit. »Senin sebesar 22,6 mm, Selasa 74,2 mm, dan Rabu 61,4 mm,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Darmaga Bogor, Nuryadi, Rabu 16 Januari 2013.
Ini membuktikan bahwa banjir di Jakarta adalah akibat debit Ciliwung meningkat drastis. Kenaikan debit Ciliwung ini terkait dengan rusaknya kawasan hulu sungai itu di Puncak.
Kepala Pusat Studi Bencana Institut Pertanian Bogor, Euis Sunarti, membenarkan. Menurutnya, meski curah hujan di kawasan hulu Ciliwung-Cisadane lebih kecil, dampak ke Jakarta lebih hebat karena daya serap air di kawasan Puncak, Bogor, sudah semakin lemah. Berdasarkan kajian dengan citra satelit, keseimbangan ekologis kawasan Puncak pada awal tahun ini merosot hingga 50 persen dibanding pada 15 tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, sungai-sungai di Jakarta semakin kehilangan kemampuan mengalirkan air hingga 70 persen karena penyempitan dan pendangkalan. Kondisi ini dan yang terjadi di Puncak bermuara pada banjir di Jakarta yang semakin parah.

Jumat, 14 Desember 2012

BANJIR LAGI.... BANJIR LAGI!

Menurut DENPASAR, KOMPAS.com - Hujan deras yang melanda Kota Denpasar sejak Jum'at (14/12/2012) dini hari tadi mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah. Kecamatan Denpasar Barat merupakan wilayah yang terparah karena banjir setinggi semeter merendam ratusan rumah. "33 rumah terendam banjir di Perumahan Tegal Indah Permai, dan Banjar Tegal Lantang Kaja, empat rumah termasuk kos- kosan, serta perumahan di Jalan Gunung Talang yang terendam banjir 60 rumah," ujar Kepala bidang Rehabilitasi dan rekonstruksi BPBD Kota Denpasar, Made Prapta di Denpasar, siang tadi. Laporan BPBD sampai siang ini, seorang warga Gunung Talang bernama Nurhadi mengalami luka-luka akibat banjir dan dirawat di RSUD Wangaya. Sementara dua bayi yang rumahnya terendam di Perumahan Tegal Indah Permai harus diungsikan ke rumah keluarganya di Renon dan Jalan Raya Sesetan menggunakan Mobil PMI dan BPBD Provinsi Bali. Selain merendam kawasan pemukiman warga, banjir juga menggenangi jalan raya di sejumlah titik yang mengakibatkan arus lalu lintas terhambat. Demikian laporan tim penanggulangan Kota Denpasar, lalu di Badung kok tidak ada laporan? Sedangkan daerah Badung mengalami Banjir yang lebih besar terutama daerah Kerobokab Kelod. Mana perhatian Pemerintah Badung yang katanya memiliki pendapatan tertinggi di Bali. Khusus di Lingkungan Pengubengan Kangin, Kerobokan Kelod, permohonan bantuan sudah diajukan ke Bupati dan DPRD Badung sejak tahun 1992-an sampai sekarang belum ada tanggapan serius. Wakil Bupati Badung, Drs. I Ketut Sudikerta sudah pernah meninjau daerah ini akan tetapi tetap tidak ada tindak lanjut.